Warisan Jumbo Michael Hartono: Empat Anak Terima Rp52 Triliun, Budi Hartono Kendalikan BBCA
Empat anak Michael Bambang Hartono menerima warisan masing-masing senilai Rp52 triliun, sementara Robert Budi Hartono resmi menjadi pemegang saham pengendali tunggal BBCA.
JAKARTA — Robert Budi Hartono kini resmi menjadi pemegang saham pengendali PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) setelah empat anak Michael Bambang Hartono menerima pembagian warisan saham masing-masing senilai Rp52 triliun, menurut laporan CNBC Indonesia pada Kamis (13/8/2026).
Perubahan struktur kepemilikan ini menandai babak baru dalam pengelolaan kekayaan keluarga Hartono, yang merupakan orang terkaya di Indonesia. Fokus utama dari peralihan ini adalah pada entitas pengendali bank swasta terbesar di tanah air tersebut, di mana porsi kendali kini berpusat pada Robert Budi Hartono.
## Rincian Pembagian Warisan Saham
Dalam laporan tersebut, Michael Bambang Hartono membagikan kepemilikan asetnya kepada empat orang anaknya secara merata. Nilai fantastis Rp52 triliun per anak tersebut mencerminkan valuasi saham perusahaan yang dikelola di bawah bendera grup keluarga mereka selama ini.
Langkah suksesi kekayaan ini dilakukan untuk memastikan keberlanjutan bisnis keluarga Hartono di masa depan. Meskipun pembagian saham telah dilakukan kepada generasi penerus Michael Hartono, operasional strategis pada level korporasi besar tetap terkonsolidasi.
## Robert Budi Hartono Kendalikan BBCA
Seiring dengan pembagian warisan tersebut, posisi Robert Budi Hartono dalam struktur BBCA menjadi semakin dominan sebagai pemegang saham pengendali. Atribusi sebagai pengendali tunggal memberikan mandat penuh dalam arah kebijakan strategis emiten perbankan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia tersebut.
Penataan aset ini dilaporkan secara resmi melalui keterbukaan informasi di pasar modal guna mematuhi regulasi transparansi kepemilikan saham. Berdasarkan informasi dari CNBC Indonesia yang diterbitkan pada 13 Agustus 2026, restrukturisasi ini tidak mengubah status keluarga Hartono sebagai pilar utama ekonomi nasional.
