IHSG Melemah 0,38 Persen Saat Bursa Asia Menghijau Akibat Suku Bunga Fed
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi ke level 6.436,85 di tengah penguatan bursa Asia setelah pengumuman suku bunga The Fed dan aksi jual asing pada saham perbankan.
JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan sebesar 0,38 persen ke posisi 6.436,85 pada perdagangan Kamis, 17 September 2026, berdasarkan data laporan Finance Detik. Kondisi ini terjadi di tengah tren penguatan pasar modal di kawasan Asia-Pasifik yang justru merespons positif kebijakan terbaru bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Melansir laporan CNBC Indonesia, mayoritas bursa saham Asia bergerak di zona hijau setelah The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan. Meskipun pasar regional kompak menguat, IHSG justru tertekan akibat aksi jual masif yang dilakukan oleh investor asing, terutama pada sektor perbankan besar yang selama ini menjadi penopang indeks domestik.
Di tengah tekanan indeks, sejumlah emiten dilaporkan tetap melanjutkan rencana strategis mereka. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) terpantau masih berfokus pada proyek tambang emas Poboya, sementara PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) tengah melakukan langkah ekspansi bisnis ke pasar Filipina. Selain itu, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) juga mengumumkan rencana aksi korporasi berupa pembelian kembali saham (buyback) dengan alokasi dana mencapai Rp500 miliar.
Sentimen negatif yang membayangi pasar modal Indonesia telah terlihat sejak penutupan perdagangan 16 September 2026, di mana arus modal asing mulai keluar dari saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Pergerakan IHSG yang bertolak belakang dengan bursa regional ini dilaporkan oleh CNBC Indonesia dan Detikcom pada tanggal 17 September 2026 sebagai dampak dari dinamika kebijakan moneter global dan rotasi aset oleh investor internasional.
